Luapan berbagai perasaan dan emosi bisa hadir dalam diri kita dengan seketika. Boleh jadi sekarang senang dan gembira, namun pada waktu satu setengah jam selanjutnya bisa saja berbalik kecewa dan sedih. Seperti yang dialami rakyat Indonesia se Tanah Air malam ini yang menyaksikan pertandingan Timnas Indonesia vs Timnas Arab Saudi di Babak Kualifikasi AFC CUP 2015.



Tanah Air vs Tanah Suci


Perasaan gembira tentu saja hadir manakala menyaksikan Boaz Salossa berhasil mencetak gol bagi Indonesia di menit-menit awal pertandingan babak pertama. Yang menyaksikan di televisi SCTV saja gembira, apalagi yang bisa menyaksikannya langsung di Stadion kebanggaan Indonesia, Gelora Bung Karno.

Namun sayang, kegembiraan itu hanya bertahan sekitar 10 menit. Tim Arab Saudi berhasil menyamakan kedudukan hingga babak pertama berakhir. Sungguh sayang sekali, di babak kedua Tim dari Tanah Suci berbalik unggul. Dan keunggulan ini bertahan hingga berakhirnya babak kedua. Dengan demikian Tim Tanah Air pun harus mengakui kemenangan Tim Tanah Suci. Ini tentu saja membuat penggemar bola se Tanah Air kecewa dan sedih.

Jauh dari pemberitaan sepakbola barusan. Kata-kata Tanah Air dan Tanah Suci mengingatkan kita akan kisah seorang pemuda bernama Malik yang baru menjejakkan kaki kembali di Tanah Air setelah lebih tiga bulan lamanya berada di Tanah Suci.

Ada perasaan yang benar-benar campur aduk kala itu. Tidak jelas mana yang lebih kuat, apakah senang karena bisa pulang kampung kembali ke Tanah Air. Atau justru sedih karena harus berpisah dan meninggalkan Tanah Suci? 

Padahal ketika masih di Tanah Air sebelum tiba di Tanah Suci, pemuda Malik sudah berencana dan berniat sungguh akan menetap di Tanah Suci Makkah Al Mukarramah 5 hingga 10 tahun lamanya. Setelah berhaji pun pemuda Malik masih keras hati ingin bertahan dan berdiam untuk menuntut ilmu dan menimba pengalaman di Tanah Suci.

Niat kuat itu terus bertahan hingga perjumpaan dengan Kiayi Haji Agus Salim mengubah cara pandang pemuda Malik. Itu pun tidak serta merta, tetapi melalui proses dialog yang membuat dua kutub saling tarik menarik di pikiran Malik.

Akhirnya si pemuda Malik pun rela melepas kesempatan emas untuk menimba ilmu secara langsung di pusat ajaran Islam yang sudah bertahun-tahun diimpikannya. Setelah tawaf wada', tawaf perpisahan, dan bertafakur di bawah lindungan Ka'bah, sampai air matanya bercucuran, Malik melangkahkan kaki menjauhi Ka'bah dengan hati yang masih terasa berat.

Meski begitu, keputusan Malik sudah bulat dan tanpa keraguan. Malik mengikuti saran dari Kiayi Haji Agus Salim untuk membantu pergerakan di Indonesia yang kala itu masih belum diproklamirkan sebagai negara merdeka. Malik pun tiba kembali di Tanah Air.

Sepenggal perjalanan hidup dari seorang Malik yang lebih dikenal hingga kini dengan sebutan Buya HAMKA. HAMKA yang merupakan nama pena dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Yang kisah perjalanan hidup beliau dengan sangat apik dan berkesan dapat kita simak dalam sebuah novel biografi berjudul Tadarus Cinta Buya Pujangga.