Sebuah kebanggaan bagi Wiwiek Hendrowati yang berhasil menyandang predikat doktor Teknik Mesin pertama jebolan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Tidak sia-sia, kebulatan tekad dan kerja keras Wiwiek mengantarkannya meraih gelar doktor dengan predikat cumlaude.





Awalnya, Wiwiek bersama dua orang rekannya ditawari untuk melakukan program studi doktoral Teknik Mesin ITS pada 2009. Namun, terganjal ketiadaan dana penelitian, hanya Wiwiek yang mengambil kesempatan tersebut.

"Saat program tersebut buka pada 2009, saya bersama kedua dosen Teknik Mesin lainnya ditawari untuk ikut. Waktu itu kami tidak langsung terima karena yang menjadi pertimbangan adalah belum ada beasiswa penelitian pada program baru tersebut, sehingga harus memakai dana sendiri," ujar Wiwiek, seperti dikutip dari ITS Online, Rabu (6/3/2013).

Oleh sebab itu, dua dosen lainnya urung mengikuti program doktor ini. Hanya ibu satu anak tersebut yang tetap optimistis mampu menyelesaikan pendidikan S-3nya dengan menemukan beasiswa dari sumber lain bagi penelitian yang digeluti.

Meski akhirnya mendapatkan sumber dana bagi penelitiannya, tidak lantas proses penelitian Wiwiek berjalan lancar. Dana beasiswa yang senantiasa bersifat parsial kerap membuatnya khawatir penelitian tersebut tersendat.

Tidak pantang menyerah, tujuh semeseter studinya pun dilakoni dengan sepenuh hati. Bahkan, dedikasi untuk penelitian tersebut dia tunjukan dengan selalu datang pagi. Beruntung, selain mendapat bantuan dari ITS, dalam penelitiannya Wiwiek pun dibantu oleh beberapa laboratorium di jurusannya.

Untuk program doktoralnya, Wiwiek membuat disertasi yang mengusung tema “Rancang Bangun Mekanisme Multi Layer Piezoelectric Vibration Energy Harvesting pada Sistem Suspensi Kendaraan”. Perhatian pada disertasi doktornya berawal dari fenomena banyaknya energi kendaraan terbuang dalam bentuk, panas, gesekan, dan getaran. Sementara itu, getaran yang signifikan terjadi pada sistem suspensi kendaraan.

Dia pun mengangkat inovasi berupa pengganti material suspensi kendaraan konvensional menjadi material piezoelectric. Wiwiek menjelaskan, material tersebut bisa menghasilkan energi listrik apabila diberi gaya tekan dan gaya tarik.

"Kedua permukaannya mempunyai beda potensial dan jika mengalami deformasi, akan menyebabkan loncatan-loncatan elektron di dalamnya," paparnya.

Dalam proses pembuatannya, material piezoelectric yang paling penting dalam penelitiannya pun sempat bermasalah. Khusus dipesan dari Jepang, material tersebut sempat terhambat di bea cukai Jakarta karena masalah pajak.

"Seharusnya, pesanan tersebut bebas pajak, karena merupakan barang penelitian. Saya harus mengurus izin tersebut dengan pembimbing saya. Baru setelah tiga bulan berikutnya, yaitu pada awal Maret 2012, material tersebut bisa diambil," ungkap Wiwiek.

Selama masa vakum tiga bulan, Wiwiek menggunakan kesempatan tersebut untuk melanjutkan pembuatan alat uji quarter car suspension test rig dan mekanismenya. Akhirnya, alat tersebut pun rampung pada April tahun lalu. (okezone)