Ini terjadi di Desa Durian Cacar, Rakit Kulim, Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau. Karena sarana yang tidak ada, siswa Sekolah Dasar Jarak Jauh Dusun III terpaksa numpang belajar di rumah seorang warga bernama Pak Minan.

belajar
Ilustrasi foto: aliefqu.wordpress.com

Seorang guru honorer, Patu Rahman, mengatakan bahwa hal itu dikarenakan fasilitas sangat minim, gedung sekolah tidak ada, akan tetapi minat siswa untuk belajar cukup tinggi. Ada sebanyak 70 siswa dari kelas 1 sampai kelas 6 SD yang harus belajar di rumah Pak Minan.

Patu Rahman prihatin dengan APBD Indragiri Hulu yang mencapai Rp, 1,4 triliun namun belum bisa membangun gedung untuk siswa sejumlah 60 orang. Jangankan gedung, alat tulis kapur saja tidak pernah dianggarkan oleh pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu. Ini sangat kontras dengan program mencerdaskan anak bangsa yang diprioritaskan oleh pemerintah

Selama ini, biaya untuk sekolah yang memiliki 3 orang guru honorer tersebut hanya mengandalkan komite sekolah. Itu pun tidak sepenuhnya bisa mencukupi. Persoalan itu sudah pernaj disampaikan kepada Dinas Pendidikan melalui UPTD kecamatan Rakit Kulim, namun belum ada penyelesaian yang konkrit.

Para siswa sekolah tersebut sebagian besar berasal dari Suku Talang Mamak. Mereka tidak memakai baju seragam. Yang dikenakan hanya pakaian biasa. Ketika belajar juga hanya duduk di lantai, tidak menggunakan meja dan kursi seperti sekolah umumnya.


Sumber: Republika.co.id (19/01/2013)