Sesuai dengan julukannya sebagai Kota Seribu Sungai, Banjarmasin memang banyak dikelilingi oleh sungai-sungai. Banyaknya sungai tersebut membuat persediaan ikan melimpah, termasuk jenis ikan (iwak haruan) atau gabus.

Bagi masyarakat Kalimantan Selatan (Kalsel) iwak haruan sangat digemari sebagai lauk makan sehari-hari. Dagingnya yang lembut, rasanya yang gurih dan kaya protein membuat ikan ini juga diolah menjadi penganan lainnya yang populer. Rabuk atau abon haruan, namanya.



Abon haruan sudah sejak lama menjadi makanan khas masyarakat Banjar. Hal ini disebabkan melimpahnya pasokan ikan haruan, sehingga mendorong kreativitas masyarakat untuk menjadikannya olahan dalam bentuk yang lain. Kebanyakan, selama ini ikan haruan hanya diolah menjadi ikan goreng, bakar atau dikeringkan.

Selain menjadi penganan yang lezat, abon haruan kini memiliki nilai ekonomi yang tinggi dengan menjadikannya oleh-oleh khas Banjarmasin. Banyak juga orang luar (wisatawan) menjadikan abon haruan ini, oleh-oleh untuk dibawa ke daerah asalnya.


Membuat abon haruan ini tidaklah sulit. Caranya, haruan segar yang telah dibersihkan kemudian direbus hingga empuk. Setelah dagingnya empuk, tulang-tulang ikan dibersihkan dengan cara menarik tulang bagian punggungnya.

Daging ikan haruan yang telah bersih, lalu dicampurkan dengan aneka rempah-rempah dan bumbu seperti bawang merah, bawang putih, laos, serai, jahe, dan lainnya. Diaduk sampai rata hingga daging ikan lumat, dan barulah digoreng.

Untuk abon haruan yang akan dipasarkan sebagai oleh-oleh biasanya dikemas dalam toples-toples berukuran kecil dan diberi merek dagang. Abon ikan haruan dijual dengan kisaran harga Rp 25 ribu sampai

Rp 125 ribu per toples. Rasa abon haruan ini sangatlah gurih dongan teksturnya yang lebih halus dibandingkan abon sapi dan abon ayam. Haruan yang memiliki kandungan kaya protein, cocok untuk dikonsumsi bagi mereka yang masih dalam tahap pertumbuhan.



Selain itu, abon haruan ini juga bisa membantu mempercepat penyembuhan luka dan mencegah penyakit stroke. Biasanya, abon ini dihidangkan sebagai pelengkap saat memakan nasi.





Sumber: Koran Banjarmasin Post edisi cetak Minggu 17 Februari 2013.