ADA dua kebahagiaan bagi mahasiswa, pertama ketika diterima di perguruan tinggi dan kedua ketika mengikuti prosesi wisuda.  Kebanggaan itu akan menjadi hambar ketika berhadapan dengan peluang kerja, apalagi alumni yang dilahirkan tidak dibekali dengan skill dan keahlian yang memadai di bidangnya, untuk itu komitmen kampus perlu dipertegas.



Sarjana dan Komitmen Kampus



Kehadiran sarjana seyogyanya harus mampu menjawab berbagai persoalan di masyarakat, karena pada diri sarjana melekat sterio tipe sebagai insan intelektual yang siap bekerja.

Lalu, bagaimana caranya membekali mahasiswa agar mereka dapat menjawab pertanyaan bagaimana, kenapa dan mengapa? Untuk mewujudkan keinginan itu, bukanlah hal yang gampang, justru itu perlu keseriusan tenaga pengajar dan ketekunan para mahasiswa dalam mengikuti proses pendidikan. Tenaga pengajar yang profesional, kurikulum yang tepat, sarana terpenuhi, persaingan mahasiswa yang kompetitif dan seterusnya, itu akan menjadi bagian terpenting dalam membangun tradisi akademik di kampus.

Kemegahan gedung belum dapat dijadikan sebagai simbol “menara keunggulan intelektual” justru itu menjadi pertaruhan untuk menjawab berbagai tantangan baik di internal kampus maupun di masyarakat luas.

Persyaratan untuk memasuki dunia kerja semakin hari semakin kompetitif, dalam artian semua ijazah sarjana boleh mendaftar meskipun kadang-kadang kelihatannya tidak relevan dengan spesifikasi pekerjaan yang ditawarkan.

Bagi dunia kerja yang dibutuhkan adalah tenaga yang siap bekerja dengan kemampuan substantif berupa kemampuan psikomotorik bukan berarti keahlian kongnitif terabaikan. Justru, kemampuan akademik hanya dijadikan sebagai kemampuan dasar sebagai persyaratan untuk masuk dunia kerja.

Untuk menjawab tantangan kerja, hendaknya pihak kampus secara kolektif dan kolegial, berpikir ke arah perbaikan mutu pendidikan dan distribusi alumni. Paling tidak dengan adanya alumni yang diterima di lembaga pemerintah atau swasta, kampus dapat eksis dan tersosialisasi secara rutin oleh alumni, di manapun mereka berada.

Pertama; raih dukungan dari pemerintah daerah. Sedianya setiap kampus perlu mengikat kerjasama dengan pemerintah daerah agar mengirimkan utusannya secara khusus untuk belajar di kampus.

Kedua, perlu memperkuat jaringan dan relasi dengan pihak perusahaan swasta, BUMN, BUMD dan dunia bisnis lainnya agar setiap tahun sebagian besar alumni dapat terserap.

Kampus perlu membangun komitmen dengan masyarakat, menjaga citra agar kepercayaan publik terus terajut, hal ini penting untuk mendongkrak peminat agar tamatan SMA bersedia masuk dan kuliah di perguruan tinggi lokal.

Kampus perlu menjaga tradisi akademik, setiap dosen terus meningkatkan profesionalisme dalam proses belajar-mengajar, penelitian dan pengabdian. Hal ini perlu ditradisikan sebagai jati diri dosen sebagai insan intelektual, menjunjung tinggi nilai-nilai akademik dan tradisi saling menghargai baik di kampus maupun di masyarakat.

Bebaskan kampus dari intrik politik, meskipun terasa agak bombastis. Independensi kampus perlu ditunjukkan, agar wibawa dan demokrasi intelektual dapat terbangun ramah, sehat dengan mengedepankan tradisi ilmiah.

Kita percaya kehadiran perguruan tinggi negeri dan swasta sudah memberikan warna baru dalam membangun tradisi intelektual, semangat kreativitas, penguatan ilmiah dan penyediaan sumber daya manusia. (BPost Cetak 13/4/2013)