Hiperaktif dan overaktif. Setelah membacanya sepintas, mungkin yang ada di pikiran Anda ini adalah dua kata yang memiliki makna sama. Wajar, mengingat kata "hiper" dan "over" sama-sama bermakna 'berlebih'.

Perbedaan Hiperaktif dan Overaktif



Bagi para orang tua, mungkin dua kata itu tidak begitu asing. Ada istilah hiperaktif pada anak Ada pula istilah overaktif pada anak. Tetapi sayangnya, banyak orang tua yang tidak memahami perbedaan antara dua istilah tersebut.

Padahal, dalam soal tumbuh kembang anak, dua kata ini memiliki perbedaan yang signifikan. Hal ini disampaikan oleh Nunki Suwardi, S.Psi saat memberikan seminar Deteksini Dini Tumbuh Kembang Anak di Jakarta, Selasa (26/2) lalu.

"Orang tua perlu tahu perbedaannya, supaya tidak salah bertindak dan menyebabkan anak jadi korbannya/' katanya. Nunki menjelaskan, di antara dua istilah itu, yang palui diwaspadai oleh orang tua adalah anak yang hiperkatif."

Anak hiperaktif itu melakukan tindakan yang tidak dipertimbangkan sebelumnya dan tingkat konsentrasinya sangat memprihatinkan. Misal, anak berlari tanpa menghiraukan halangan di depannya. Dia diterobos terus." ungkapnya. 

Sedangkan anak overaktif, jelas Nunik, masih bisa memahami lingkungan sekitarnya. Lebih lanjut lagi untuk membedakannya, Nunki menyarankan orang tua untuk mengukur tingkat konsentrasi anak sesuai rentang umurnya.



Caranya mudah dan sangat simpel. Ajak buah hati Anda untuk melakukan hal yang ia senangi, misal menonton televisi. Perhatikan seberapa lama si kecil bisa bertahan melakukannya. "Umur anak jadi pengukurnya" kata Nunki.


Bila si kecil berumur dua tahun, maka batas normal waktu konsentrasi anak adalah dua menit, sedangkan tiga tahun berarti tiga menit. Begitu pula seterusnya. Jika si kecil langsung "grasak-grusuk" atau tidak bisa berkonsentrasi terhadap hal yang ia lakukan hingga waktu tersebut, besar kemungkinan anak mengalami
hiperaktif. "Kalau anak overaktif tidak" kata Nunki.


Nunki menyarankan agar segera mencari terapi dan obatan-obatan yang tepat. "Jangan terlambat untuk menghindari kondisi yang makin parah dan harus jeli membedakan hiperaktif dan overaktif. (BPos Cetak 3/1/2013)