Pusat Penelitian Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi (Puskonser) Badan Litbang Kementerian Kehutanan memperkenalkan teknologi rehabilitasi antilongsor pada lahan pascatambang dengan merekayasa karpet sabut kelapa 'cocofiber'.


Teknologi Anti Longsor dengan Sabut Kelapa

     
"Badan Litbang Kehutanan merekayasa karpet sabut kelapa 'cocofiber' berjasat renik sebagai teknologi rehabilitasi antilongsor pada lahan pascatambang," kata Kepala Pusat Puskonser Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kehutanan, Adi Susmianto, di Bogor, Minggu (17/3).
     
Adi menjelaskan, teknologi rehabilitasi khusus lahan terdegradasi pada daerah yang memiliki kelerengan yang terjal dan berpotensi terjadinya longsor serta erosi tanah yang sangat besar dapat dilakukan dengan rekayasa karpet sabut kelapa ini.
     
Badan Litbang Kehutanan telah merekayasa karpet sabut kelapa (cocofiber) dengan menyelipkan biji-biji tanaman hutan dan covercrops ditambah jasad renik berupa konsorsium mikroba yang berfungsi melarutkan fosfat dan menambatkan nitrogen dari udara.
     
Modifikasi teknologi ini, lanjut Adi, memberikan prospek yang bagus bagi praktisi yang menutup tebing-tebing bukit, tebing waduk, lereng-lereng jalan tol, lahan pascatambang, dan gunung-gunung berapi perlu segera direhabilitasi yang tersebar luas di Indonesia.

"Membuat jaring dari sabut kelapa (cocofiber) untuk mencegah longsor dan meminimalisir erosi tanah pada kegiatan reklamasi tambang sudah banyak dilakukan oleh perajin karpet di Jawa," katanya.
    
Adi menjelaskan, kantong sabut kelapa cocofiber berupa karung dapat diisi oleh benih-benih tanaman hutan cepat tumbuh dan dicampur multi mikroba serta kompos.
     
Bahan sabut kelapa ini dapat menyimpan air, pelapukan lambat dan bermanfaat menjaga kelembaban.

"Aplikasinya dapat ditempatkan pada lahan-lahan miring yang sangat sulit untuk ditanam," katanya.
      
Di Jepang, lanjut Adi, teknologi tersebut diaplikasi dengan cara menggunakan helikopter. Sebanyak 50 karung berukuran 50 kg dilempar ke tanah-tanah bekas letusan gunung berapi yang tidak mungkin ditanam kembali oleh manusia.
     
"Cara ini memberikan hasil yang sangat baik, terbukti proses suksesi di gunung berapi berjalan cepat," ujar Adi.
      
Dengan teknologi tersebut, ujar Adi, dalam waktu lima tahun, lahan bekas gunung berapi telah menjadi hutan kembali.        

Namun, proses tersebut tentunya dibantu dengan pemilihan jenis pohon untuk areal konservasi harus menggunakan jenis pohon lokal yang cepat tumbuh.
      
Menurut Adi, untuk merehabilitasi lereng-lereng terjal, karpet sabut kelapa tersebut dapat menutup lahan terjal dan dibuat untuk kepentingan estetika dengan menabur berbagai jenis bunga-bungaan yang warna-warni.
     
Riset multi-mikroba unggul sebagai material internal karpet sabut kelapa menjadi target utama dalam meningkatkan mutu karpet cocofiber.
     
Dengan mikroba simbiosis yang unggul, maka tanaman dalam karpet dapat tumbuh cepat dan menyebarkan ke dinding dinding lahan pascatambang yang rawan erosi dan longsor.
     
"Mikroba yang digunakan diutamakan jenis jamur mikoriza yang dapat mengurai fosfat terikat dalam tanah, dan bakteri penambat nitrogen yang bersimbioasis pada tanaman hutan dari jenis legum," katanya.
     
Adi mengutarakan, saat ini peneliti di Puskonser Badan Litbang Kehutanan sedang memodifikasi material-material organik pengganti sabut kelapa cocofiber dengan material yang lebih ringan, mudah dipintal, dapat menyimpan kelembaban, dan mudah diproduksi skala massal.
     
"Temuan ini akan segera dipatenkan, dan akan bekerja sama dengan perusahaan Takino Filter Inc dari Jepang, yang berminat menanamkan modal di Indonesia," katanya.
     
Adi menambahkan, produksi karpet penutup tanah longsor ini akan dikomersialisasikan tidak hanya untuk Indonesia tapi juga Jepang. (Metrotvnews)