Kiayi Jarkoni Asal Menjawab



"kiai, besok teman2 saya di sekolah ikut ujian nasional, tanggapan yai bagaimana?" tanya gimin,

"mau saya jawab secara ideal atau kompromis?"

"dua-duanya!"

"secara ideal, kalau tidak suka, tinggalkan, tidak usah sekolah sekalian, atau cari sekolah yang tidak ada ujian nasionalnya, anak saya tidak saya masukkan ke sekolah brengsek dengan kurikulum bodoh seperti itu, untung dia sendiri yang memilih memang tidak mau sekolah di sekolah yang umum, dia sekolah sesuai dengan kebutuhannya bukan sekolah atau guru yang butuh!"

"kalau jawaban kompromis?"

"ikutlah ujian nasional, tidak masalah, kasihan dengan orang tua, kalau mau melanjutkan kuliah seperti predi juga bisa, siapa tahu mau jadi PNS atau caleg..."

"waah, gak asik ya, kalau menurut kiai, mungkin tidak ujian nasional itu dihilangkan?"

"untuk saat ini tidak!"

"apa alasannya karena untuk mengukur capaian siswa?"

"itu alasan formal!"

"alasan aslinya?"

"ini proyek besar min, negara untung bermilyar2 dari ujian nasional yang tidak penting ini!"

"kenapa tidak penting?"

"karena cuma tiga hari? mosok proses tiga tahun cuma ditentukan pelajaran tertentu saja. itu tidak becus, kecerdasan itu macam-macam, dan ujian nasional itu cuma dua macam kecerdasan, itu kita belum bicara otak, yg menurut orang intelek sekarang dibagi jadi tiga macam, otak kanan, kiri dan tengah, sedangkan ujian itu hanya menggunakan otak kiri, tengah dan kanan libur total!"

"kalau menurut kiai, menteri pendidikan kita itu menentukan sistem ini pakai otak mana?"

"dia tidak punya otak, jangan kamu tanya!"

"hahaha,, katanya tidak mau misuh?"

"ini bukan misuh, ini fakta! Pak Nuh, menteri yang sebenarnya baik tapi kepelesest itu gak nyadar posisinya itu gawat sekali, puluhan juta anak sekolah dimainkan dia selama menjabat, ini bukan perkara sepele, bolongan di tengah jalan saja, pemerintah setempat harus tanggung jawab memperbaikinya, lha ini puluhan juta otak anak sekolah malah sengaja dibikin bolong! apa enggak bahaya itu?"

"terus menurut kiai bagaimana?"

"bubarkan saja sekolah yang ada seperti saat ini! anggaran boros 20% tapi tetep aja jebol"

"terus ganti apa?"

"ganti sekolah hidup, sekolah yang tidak dilembagakan negara dengan sistem ambrolnya itu"

"ada jaminan kalau dengan sistem itu sukses?"

"banyak jaminannya, kamu cari tahu siapa nabi yang kuliah? borobudur dan piramida itu bukan didirikan oleh anak2 lulusan sekolah, rama's gate di srilanka itu bukan lulusan insinyur nyang membuatnya, steve jobs dan bill gates ya tidak lulus, semua pemain liga sepakbola kelas dunia juga bukan anak2 kuliahan, hanya SBY, Anas, Andi Malarangeng dan orang2 partai yang kuliah, mereka anak2 sekolah, kamu mau jadi tiga kecoa itu?"

"wah, sedih juga yo yai, tapi kalau orang tua tetap menyuruh saya sekolah bagaimana?"

"turuti saja!"

"sepasrah itu, apa tidak ada perlawanan?"

"tidak ada!"

"kenapa memangnya?"

"sebab bapakmu yang ngasih kamu makan, ibukmu yang merawatmu, hormati mereka, aku cuma udara, tak bisa membuatmu kenyang! pesan ini bukan untuk semua orang, ini sifatnya pribadi, sebab hanya sebelas orang yang bermain di setiap tim di lapangan, ratusan juta lainnya cuma bisa jadi penonton! nah, di sini kamu harus sadar, kamu itu pemain apa penonton!"

"saya gak paham kiai, coba tolong dijelaskan lebih lanjut?"

"tanya saja dengan guru agamamu di sekolah, sana! jangan lupa kalau ke sini lagi bawa jus apel, jus jambunya tadi kurang manis!"

Sumber: facebook