Orangtua kita dulu punya kebiasaan mendongengkan anaknya setiap menjelang tidur. Berdasar penelitian, kebiasaan mendongeng semacam itu ternyata bukan sebagai pengantar tidur semata. Kebiasaan tersebut juga membuat anak jadi memiliki kemampuan berbahasa yang lebih kaya jika dibandingkan dengan anak yang tidak pernah diperdengarkan dongeng.


Mendongeng


Dra Mayke S Tedjasaputra, Msi, Play Terapist dan Dosen Psikologi di Universitas Indonesia dalam paparannya di Jakarta, baru-baru ini mengatakan, hasil penelitian yang dilakukannya tentang kemampuan berbahasa pada anak dengan mengambil sampel responden 100 orang ibu-ibu di daerah Depok, Jawa Barat, menunjukkan, ibu yang aktit berinteraksi dengan anaknya, baik dengan memberikan komik atau buku bacaan, sambil didongengkan akan membuat anak jadi lebih aktif

"Anak yang sering didongengkan atau dibacakan buku atau komik oleh orangtuanya itu jauh lebih kaya  pemahaman bahasanya dibandingkan dengan anak yang tidak pernah berinteraksi dengan orangtuanya," ujarnya.

Interaksi orangtua dan anak ini, kataMayke, bukan saja dapat merangsang kecerdasan dan pertumbuhan otak anak. Tapi juga membuat kedekatan orangtua dengan anaknya semakin erat.

Berbagai penelitian dari laporan yang dipublikasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2004 menunjukkan, anak yang tidak diajak berinteraksi akan mengalami kekurangan kemampuan kognitifnya. 

Secara fisik,anak juga tidak menjadi baik. "Karenamereka menganggap anak bukan sosok yang penting, yang berhak mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya," tegasnya.

Mayke menegaskan hal ini bisa dilihat dari perkembangan anak-anak yang dibesarkan di lingkungan panti asuhan. Meski mereka diberikan asupan makanan yang sama dengan anak yang tinggal bersama orangtuanya di keluarga yang normal, namun tumbuh kembang anak-anak di panti asuhan menjadi terlambat. "Apalagi jika dilihat dari aspek kognitifnya, jauh beda. Ini karena mereka jarang diajak bicara". ujarnya.

Tumbuhkan Imajinasi

Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia, dongeng berarti cerita yang tidak benar-benar terjadi. "Namun secara luas, bisa juga diartikan sebagai membacakan cerita atau menularkan cerita pada anak. Entah itu cerita nyata, tidak  nyata, atau pengalaman orangtua" ujar Dra. Sri Tiatri dari Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara, Jakarta.

Lewat dongeng yang kita bacakan atau kita tuturkan kepada anak, imajinasi si kecil akan tumbuh, sekaligus membangun liati nurani anak. "Anak, kan, belum tahu mana yang baik dan buruk. Nah, lewat dongeng, orangtua bisa mengajarkan hal itu," ujar Sri.

Melalui dongeng, anak sebenarnya juga diajak belajar merasakan empati dari apa yang dialami tokoh cerita idolanya. Biasanya, anak akan berimajinasi menjadi tokoh itu. Lewat dongeng pula,hubungan anak dan orangtua bisa terjalin lebih erat karena terjadi interaksi yang begitu intens.

Lama-kelamaan, sesuai dengan bertambahnya usia, si kecil yang memiliki rasa ingin tahu begitu besar, ingin juga belajar membaca. Nah, kalau ia sudah bisa membaca sendiri, ia akan tergoda untuk membaca buku
yang selama ini dibacakan ayah atau ibunya. "Seakan ia ingin memperkuat cerita yang selama ini didengarnya. loh, ia merasa sudah tahu jalan ceritanya," tutur Sri Tiatri.(BPost 8/5/2013)