Deschooling dapat diartikan proses "meniadakan sekolah" mengembalikannya menjadi peran pendidikan. Istilah Unschooling mungkin terlihat lebih kasar.

Baik sekolah formal maupun homeschooling keduanya sama-sama berjudul "SEKOLAH", jadi deschooling adalah proses "menghilangkan" sekolah. Kenapa demikian? Karena sekolah (termasuk homeschooling) dianggap oleh sebagian orang sudah tidak lagi memberikan pendidikan yang sejati. 


Apa itu Deschooling dan Homeschooling?


Pendidikan berbasis rumah atau berbasis komunitas di beberapa negara maju lebih suka menyebut dirinya dengan HomeEducation daripada homeschooling. Mereka konsisten tidak memindahkan kurikulum sekolah ke rumah. Fokus pada akhlak dan bakat.

Kebanyakan Homeschooling yang ada saat ini hanya memindahkan kurikulum sekolah ke rumah, sementara orientasinya masih mendapat ijasah, karena itu lahirlah komunitas homeschooling sebagai penyedia ijazah dan ujian plus bimbelnya sekalian. 

Perlu digarisbawahi, bahwa sepanjang masih memindahkan kurikulum sekolah ke rumah atau ke komunitas, apalagi dengan orientasi sama seperti sekolah umum, yaitu lulus UN dan Ijazah, maka homeschooling bukanlah deschooling.

Homeschooling demikian hanyalah "Salep" bagi kebobrokan sistem persekolahan nasional. Akhirnya lebih mirip dengan Bimbingan. Jadi tidak ada beda antara homeschooling yang demikian dengan praktek persekolahan yang kita kenal secara umum, keduanya tidak memberikan pendidikan, hanya memanfaatkan situasi ketidakpahaman orangtua atau publik tentang makna pendidikan.


Padahal niat homeschooling awalnya adalah "deschooling" yaitu mengembalikan peran dan tujuan pendidikan kepada komunitas dan keluarga, dengan tujuan membangun tradisi belajar dimanapun serta menemukan jatidiri anak. Orang belajar bukan karena orientasi ujian atau karena orientasi ijazah.

Pendidikan semestinya berbasis komunitas, dengan tema-tema pada penemuan bakat, akhlak dan realita. Peran orangtua tidak cukup mengingat subyektifitas dan keterbatasan. Dalam konteks Islam juga pendidikan dimaknakan sebagai konsep "berguru" secara berjamaah (berkomunitas). Dulu ada konsep Surau, Meunasah dan Pesantren. Kalau di barat Kristen ada konsep sekolah minggu. Di bangsa Yahudi ada konsep sekolah Sabtu, di bangsa China ada model pendidikan vihara mirip Shaolin She dan seterusnya.

Namun sayangnya konsep pendidikan berkomunitas yang bertujuan melahirkan leader berbakat dan berakhlak ini direnggut oleh negara sebagai kelanjutan politik etis Belanda untuk menyediakan dan mempersiapkan siswa menjadi rantai supply bagi pabrik dan perkebunan.

Seseorang pernah berkata, persekolahan hari ini sesungguhnya mengkhianati konsep pendidikan Ki Hajar Dewantoro dan KH Ahmad Dahlan serta pejuang anti model pendidikan kolonial lainnya. Bukankah misi mereka dahulu adalah Deschooling dari Model Sekolah Kolonial??


sumber: facebook.