Kita mengenal daun jambu biji sebagai salah satu obat alternatif untuk sakit perut. Tapi ternyata ekstrak daun jambu biji dapat diolah dan dimanfaatkan menjadi pewarna tekstil. Selain alami dan ramah lingkungan, tentu pewarna jenis ini lebih ekonomis. 


Daun Jambu Biji Bisa Jadi Pewarna Tekstil!


Tangan di balik inovasi ini adalah trio dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY); Senja Dewi Utamaningsih, Pambudi Tedjo Yr., Saryana, dan Ragil Nurjannah R. Ketiga mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ini meneliti khasiat daun jambu biji sebagai pewarna tekstil melalui penelitian berjudul "Ekstraksi dan Karakterisasi Zat Warna Alami dari Daun Jambu Biji (Psidium Guajava Linn) serta Uji Potensinya sebagai Pewarna Tekstil." 

Senja menjelaskan, daun jambu biji ini mengandung antosianin yang berperan pada pewarnaan daun, yakni cyanidin-3-sophoroside dan cyanidin-3-glucoside. Kandungan lainnya adalah flavan 3,4-diols  yang tergolong  senyawa  tanin berupa  pigmen  kuning  sampai  coklat. Tidak hanya itu, daun jambu biji juga mengandung pigmen gugus kromofor karbonil, gugus auksokrom yaitu hidroksil dengan senyawa organik tak jenuh hidrokarbon aromatik.

"Kandungan ini menyebabkan pigmennya mudah sekali melepaskan zat tersebut pada bahan kain," ujar Senja, seperti dikutip dari laman UNY, Jumat (8/3/2013).  

Senja berharap, hasil penelitian dia dan timnya dapat menjadi alternatif zat pewarna tekstil yang selama ini dibuat secara kimiawi. Pasalnya, selain dapat mencemari lingkungan, zat pewarna tekstil juga dapat menyebabkan penggunanya terkena kanker. 

"Air limbah industri tekstil yang menggunakan zat pewarna sintesis akan mencemari sungai dan tidak dapat dimanfaatkan lagi jika pengolahan limbahnya kurang optimal dan dibuang ke sungai," tuturnya. 

Untuk membuat pewarna alami dari jambu biji, pertama-tama Senja dan kawan-kawan membersihkan dan menghaluskan daun jambu biji dengan blender sehingga didapatkan serbuk daun jambu biji. Kemudian, serbuk daun jambu biji tersebut lalu dimasukkan ke dalam jerigen berisi larutan metanol. Rendaman ini dibiarkan selama sehari semalam sambil dikocok tiap sore. Proses maserasi, yakni perendaman dengan larutan organik ini, dilakukan hingga 2x24 jam. 

Selanjutnya, dilakukan proses evaporasi dan uji potensi pewarna tekstil. Proses ini menghasilkan zat berwarna hijau kecoklatan. Untuk memisahkan senyawa-senyawa dalam zat warna digunakanlah metode kromatografi kolom. Sedangkan sisa yang terbentuk dari pelarut pada proses ini adalah karamel.

"Warna hijau diduga  zat warna klorofil yang berasal dari daun, sementara warna coklat diduga dari  golongan flavonoid, salah satunya adalah senyawa flavan 3,4-diol," tutur Senja. 

Dia mengimbuh, dari 50 gram daun jambu biji kering, dihasilkan 10,24 gram pasta zat warna. (Okezone)